Selasa, 11 Februari 2014

MEMELUK HATI FINO


Di malam yang tenang Mira duduk menyendiri
 “Sudah kuputusakan untuk menjauh darinya,aku fikir aku tak akan mungkin bisa menjadi bagian dari hidupnya” Fikir Mira
Satu tahun lebih Mira menutup hatinya untuk Fino, cowok yang pernah mengisi relung hatinya. Bukan karena Mira sudah tidak lagi mencintai Fino, tapi Mira lebih memilih pergi setelah vonis dokter tentang kanker yang bersarang di otaknya. Mimpi memiliki dan dimiliki Fino hanyalah sebuah mimpi besar yang tidak akan pernah tercapai. Tapi Fino tidak pernah tahu itu. Bahkan mimpi hidup bersama – sam Fino sampai sepanjang usia itu hanya akan sia – sia belaka karena tak lama lagi Mira pasti sudah tiada.
Belakangan Fino sudah memang sudah mengatakan pada Mira

“Mir….aku mencintaimu, apapun, bagaimanapun kondisimu..karena aku mencintaimu apa adanya”

tapi kata – kata itu tak cukup  meyakinkan Mira untuk bertahan demi cintanya. Mira lebih memilih bungkam membunuh sejuta harapan bersama Fino.
Fino begitu lelah berlari mengejar cinta Mira.segala upaya ia lakukan,tapi itu tak bisa merubah keinginan Mira untuk meninggalkannya. Cinta  Fino semakin lama semakin tak berujung,seperti layaknya sebuah cincin , hanya berputar disitu saja tanpa ada ujungnya, meskipun masih berbekal cinta tulus untuk  Mira, akhirnya Fino bertemu Nia,wanita manis yang mampu meluluhkan kerasnya hati Fino. Entah karena Fino sudah tak mencintai Mira lagi atau hanya pelampiasan semata,itu hanya Fino yang tau itu.
Perlahan keadaan mengubah segalanya, Fino telah jatuh cinta pada Nia. Tanpa tahu lagi keberadaan Mira, Fino memutuskan menikah dengan Nia,berjanji untuk setia sehidup dan semati.
Tapi 1 bulan sebelum pernikahan itu berlangsung Tuhan memberi kesempatan Fino dan Mira bertemu ditengah ketidaksengajaan.
“ Mira……………..”, sapa Fino saat itu
Mira pun tersenyum dan saling bertukar cerita pada Fino. Begitu banyak hal yang telah terlewatkan selama mereka tidak bertemu. Dari mata Mira tersirat binar2 cinta yang masih tersimpan untuk Fino. Jauh didalam hatinya Mira masih sangat mencintai Fino,meskipun Mira kini telah bersama Robi, pengganti Fino.
 2 minggu kemudian setelah pertemuan itu,entah untuk tujuan apa ketika Nia tak ada,Fino mengirim sebuah pesan singkat pada Mira

**Masihkah kamu mencintaku?**

Berulang kali logika Mira berfikir, dengan spontan Mira membalasnya

*Aku masih sangat mencintaimu*

Fino pun sangat terkejut dengan isi pesan singkat dari Mira. Balasan itu terlalu indah dari yang ia bayangkan. Tak pernah ia mengira jika Mira juga masih menyimpan cintanya. Berarti selama ini atak ada istilah cinta bertepuk sebelah tangan sepertia yang selalu ia fikirkan

Mira kembali mengirim pesan singkat untuk Fino

*Mungkinkah kita bisa kembali seperti dulu?*

Fino ragu dan berusaha mengalihkan pembicaraan,karena Mira tak tau jika dirinya sudah tak sendiri lagi.

**Kenapa dulu kamu meninggalkanku?
    Aku begitu merindukanmu…..**

 *Aku menderita kanker Fin,
  Waktuku tak banyak lagi
Aku tak mau kamu sia – siakan hidupmu
Hanya demi aku
Aku ingin kamu bisa dapatkan yang lebih baik dari aku
Kamu lebih pantas bahagia
Tanpa aku..*

**tapi aku bahagia jika bersamamu**

*ia…sekarang aku sudah menjalani pengobatan
Kemungkinan besar aku bisa sembuh kembali
Aku ingin dimiliki kamu lagi Fin..*

Fino semakin ragu, seperti mendapatkan kembali permata yang telah hilang,sedangkan ia sudah memiliki berlian yang lebih indah berkilau. Meskipun Fino sadar masih ada cinta untuk Mira , tapi bagaimanapun Nia dalah pilihan terakhir Fino.

**Maafkan aku Mira….
   Aku sudah memiliki dia
   Pengganti hatimu,aku segera menikah     dengannya
  Tapi aku cinta dia dan kamu…**

Itu adalah kata terindah sekaligus kata yang menyakitkan yang harus pernah ia dengar. Seberat apapun kenyataan itu ,Mira harus menerimanya, pernikahan bukanlah hal yang main – main,apalagi setelah Fino menyerahkan Kartu undangan yang bertuliskan tinta cinta untuknya.
 Bukankah dari awal memang ini yang aku mau, melihat dia bahagia bersama orang lain adalah kebahagiaan untukku juga. Tapi kenyataan memang selalu lebih pahit dari yang Mira fikirkan.  Keikhlasan melepaskan Fino adalah harga yang tak bisa dibayar dengan apapun juga.
Tepat satu bulan Fino menikah dengan Nia.Mira pun menikmati kebahagiaan diatas luka penyesalannya.
“untuk apa aku menyesal……” fikir Mira

1 tahun kemudian..

Tanpa sengaja Fino bertemu kembali dengan Mira, saat itu Mira juga masih belum menikah. Untuk apa lagi Tuhan mempertemukan  dirinya dan Fino. Mungkinkah Tuhan memberi kesempatan mereka untuk memperbaiki semua. Tapi itu tak mungkin Fino sudah ada yang memiliki , begitu pula dengan Mira yang telah bersama Robi.
Fino menyadari cintanya pada Mira masih tersimpan meskipun disudut hati yang paling dalam. Fino kembali mengobrak – abrik hati Mira. Entah kenapa juga Tuhan memberi jalan untuk mereka saling mencintai kembali dibalik Nia dan Robi. Kurang lebih 6 bulan Mira dan Fino menebar cinta mereka kembali
Mira juga sadar ,hubungan cintanya pada Fino tidak lain adalah sebuah bom waktu yag sewaktu – waktu akan meledak.jika itu terjadi pasti kesulitan akan menimpa Fino dan Mira tidak ingin Fino menderita. Demi cinta, Mira berhenti memegang hati Fino.dia merasakan bagaimana jika Mira juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami Nia, sebelum bom waktu itu benar – benar  meledak Mira memutuskan untuk pergi dari Fino, menjauh dari bayang – bayang cinta yang membelenggu.

 2 tahun kemudian…..

“Tante, ambilin bolanya”..    teriak seorang anak kecil dengan terbata - bata didepan Mira


Mira tersenyum dan mengambilkan bola untuk anak lelaki  itu..
“gantengnya…anak siapa ini?”,,Tanya mira pada anak itu

Tanpa menjawab anak itu berlari kearah ibunya. Mira seakan mengenal ibu dari anak kecil itu. Wanita cantik itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih lalu pergi membelakanginya.

“ Mira….”,
mira tertegun mendengar panggilan dari seseorang dari balik badannya. Mira mebalikkan badan, pria kurus tinggi itu membuat nadinya brdenyut lebih kencang, perasaan itu muncul kembali,perasaan yang sudah lama pernah mati.

“Mira….”.lelaki itu meraih kedua tangan mira.
Mata mira pun berkaca – kaca..mata itu terlalu lemah untuk menahan air mata.

“Aku masih sangat mencintaimu”…kata lelaki itu
Mira hanya diam lalu menghapus tetesan air matanya, kemudian menyambung kembali percakapan
“ Fino…aku….juga….masih…….”kata – kata Mira terputus ketika anak kecil tadi berkata dengan lugunya..
“Pa….pa……….”
Mira terbangun dari hanyutan perasaannya, Fino merangkul anak itu.
“Mir….ini Reski,,anakku…..”kata  Fino
Mira mencubit pipi Reski,dan membalikkan badan, baru saja Mira akan melangkahkan kaki. Fino meraih kembali tangan Mira dan memeluknya
 “aku mencintaimu Mira…..”
Reski berlari seakan ingin menceritakan cerita pada ibunya,tentang apa yang ayahnya lakukan pada wanita pengambil bola itu
Mira pun menangis dipelukan Fino, seraya berkata.

“ Tak ada banyak hal yang mampu membuatku lupa kalau akupun mencintaimu,tapi keadaan sudah sangat jauh berbeda”

“Mira kita bisa memperbaikinya dari awal..bukankah cinta itu adalah anugerah dari Tuhan,kita berhak menikmati cinta itu Mir”

“Tapi kamu tidak sendiri lagi, cinta tak selamanya harus memiliki Fin,sekarang hiduplah dengan hidupmu, cintailah dia yang telah mencintaimu”

“Tapi Mir…….””

“Fin…..Jika memang kita terlahir untuk bersama,sudah sejak awal Tuhan tidak semudah itu memisahkan kita, aku menyesal telah menyia – nyiakanmu,, sekarang kulepakan kamu,biarkan aku hidup dalam kenanganmu, mungkin hanya dengan mengenangmu aku bisa mencintaimu”

Mira melepaskan pelukannya dan pergi dari Fino.meninggalkan seberkas cinta yang masih memeluk hatinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar