MEMELUK HATI FINO
Di malam
yang tenang Mira duduk menyendiri
“Sudah kuputusakan untuk menjauh
darinya,aku fikir aku tak akan mungkin bisa menjadi bagian dari hidupnya” Fikir
Mira
Satu tahun
lebih Mira menutup hatinya untuk Fino, cowok yang pernah mengisi relung
hatinya. Bukan karena Mira sudah tidak lagi mencintai Fino, tapi Mira lebih
memilih pergi setelah vonis dokter tentang kanker yang bersarang di otaknya.
Mimpi memiliki dan dimiliki Fino hanyalah sebuah mimpi besar yang tidak akan
pernah tercapai. Tapi Fino tidak pernah tahu itu. Bahkan mimpi hidup bersama –
sam Fino sampai sepanjang usia itu hanya akan sia – sia belaka karena tak lama
lagi Mira pasti sudah tiada.
Belakangan
Fino sudah memang sudah mengatakan pada Mira
“Mir….aku
mencintaimu, apapun, bagaimanapun kondisimu..karena aku mencintaimu apa adanya”
tapi kata – kata itu tak cukup meyakinkan Mira untuk bertahan demi cintanya. Mira lebih memilih bungkam membunuh sejuta harapan bersama Fino.
Fino begitu
lelah berlari mengejar cinta Mira.segala upaya ia lakukan,tapi itu tak bisa
merubah keinginan Mira untuk meninggalkannya. Cinta Fino semakin lama semakin tak
berujung,seperti layaknya sebuah cincin , hanya berputar disitu saja tanpa ada
ujungnya, meskipun masih berbekal cinta tulus untuk Mira, akhirnya Fino bertemu Nia,wanita manis
yang mampu meluluhkan kerasnya hati Fino. Entah karena Fino sudah tak mencintai
Mira lagi atau hanya pelampiasan semata,itu hanya Fino yang tau itu.
Perlahan
keadaan mengubah segalanya, Fino telah jatuh cinta pada Nia. Tanpa tahu lagi
keberadaan Mira, Fino memutuskan menikah dengan Nia,berjanji untuk setia
sehidup dan semati.
Tapi 1 bulan
sebelum pernikahan itu berlangsung Tuhan memberi kesempatan Fino dan Mira
bertemu ditengah ketidaksengajaan.
“ Mira……………..”,
sapa Fino saat itu
Mira pun tersenyum dan saling
bertukar cerita pada Fino. Begitu banyak hal yang telah terlewatkan selama
mereka tidak bertemu. Dari mata Mira tersirat binar2 cinta yang masih tersimpan
untuk Fino. Jauh didalam hatinya Mira masih sangat mencintai Fino,meskipun Mira
kini telah bersama Robi, pengganti Fino.
2 minggu kemudian setelah pertemuan itu,entah
untuk tujuan apa ketika Nia tak ada,Fino mengirim sebuah pesan singkat pada
Mira
**Masihkah kamu
mencintaku?**
Berulang kali logika Mira
berfikir, dengan spontan Mira membalasnya
*Aku masih
sangat mencintaimu*
Fino pun sangat terkejut dengan
isi pesan singkat dari Mira. Balasan itu terlalu indah dari yang ia bayangkan.
Tak pernah ia mengira jika Mira juga masih menyimpan cintanya. Berarti selama
ini atak ada istilah cinta bertepuk sebelah tangan sepertia yang selalu ia
fikirkan
Mira kembali mengirim pesan singkat
untuk Fino
*Mungkinkah kita
bisa kembali seperti dulu?*
Fino ragu dan berusaha
mengalihkan pembicaraan,karena Mira tak tau jika dirinya sudah tak sendiri
lagi.
**Kenapa dulu
kamu meninggalkanku?
Aku begitu merindukanmu…..**
*Aku menderita kanker Fin,
Waktuku
tak banyak lagi
Aku tak mau kamu
sia – siakan hidupmu
Hanya demi aku
Aku ingin kamu
bisa dapatkan yang lebih baik dari aku
Kamu lebih
pantas bahagia
Tanpa aku..*
**tapi aku
bahagia jika bersamamu**
*ia…sekarang aku
sudah menjalani pengobatan
Kemungkinan
besar aku bisa sembuh kembali
Aku ingin
dimiliki kamu lagi Fin..*
Fino semakin ragu, seperti
mendapatkan kembali permata yang telah hilang,sedangkan ia sudah memiliki
berlian yang lebih indah berkilau. Meskipun Fino sadar masih ada cinta untuk
Mira , tapi bagaimanapun Nia dalah pilihan terakhir Fino.
**Maafkan aku
Mira….
Aku sudah memiliki dia
Pengganti hatimu,aku segera menikah dengannya
Tapi aku cinta dia dan kamu…**
Itu adalah
kata terindah sekaligus kata yang menyakitkan yang harus pernah ia dengar.
Seberat apapun kenyataan itu ,Mira harus menerimanya, pernikahan bukanlah hal
yang main – main,apalagi setelah Fino menyerahkan Kartu undangan yang
bertuliskan tinta cinta untuknya.
Bukankah dari awal memang ini yang aku mau,
melihat dia bahagia bersama orang lain adalah kebahagiaan untukku juga. Tapi
kenyataan memang selalu lebih pahit dari yang Mira fikirkan. Keikhlasan melepaskan Fino adalah harga yang
tak bisa dibayar dengan apapun juga.
Tepat satu
bulan Fino menikah dengan Nia.Mira pun menikmati kebahagiaan diatas luka
penyesalannya.
“untuk apa aku menyesal……” fikir
Mira
1 tahun kemudian..
Tanpa
sengaja Fino bertemu kembali dengan Mira, saat itu Mira juga masih belum
menikah. Untuk apa lagi Tuhan mempertemukan
dirinya dan Fino. Mungkinkah Tuhan memberi kesempatan mereka untuk
memperbaiki semua. Tapi itu tak mungkin Fino sudah ada yang memiliki , begitu
pula dengan Mira yang telah bersama Robi.
Fino
menyadari cintanya pada Mira masih tersimpan meskipun disudut hati yang paling
dalam. Fino kembali mengobrak – abrik hati Mira. Entah kenapa juga Tuhan
memberi jalan untuk mereka saling mencintai kembali dibalik Nia dan Robi.
Kurang lebih 6 bulan Mira dan Fino menebar cinta mereka kembali
Mira juga
sadar ,hubungan cintanya pada Fino tidak lain adalah sebuah bom waktu yag
sewaktu – waktu akan meledak.jika itu terjadi pasti kesulitan akan menimpa Fino
dan Mira tidak ingin Fino menderita. Demi cinta, Mira berhenti memegang hati
Fino.dia merasakan bagaimana jika Mira juga mengalami hal yang sama seperti
yang dialami Nia, sebelum bom waktu itu benar – benar meledak Mira memutuskan untuk pergi dari Fino,
menjauh dari bayang – bayang cinta yang membelenggu.
2 tahun kemudian…..
“Tante, ambilin bolanya”.. teriak seorang anak kecil dengan terbata -
bata didepan Mira
Mira tersenyum dan mengambilkan
bola untuk anak lelaki itu..
“gantengnya…anak siapa
ini?”,,Tanya mira pada anak itu
Tanpa menjawab anak itu berlari
kearah ibunya. Mira seakan mengenal ibu dari anak kecil itu. Wanita cantik itu
tersenyum dan mengucapkan terimakasih lalu pergi membelakanginya.
“ Mira….”,
mira tertegun mendengar panggilan
dari seseorang dari balik badannya. Mira mebalikkan badan, pria kurus tinggi
itu membuat nadinya brdenyut lebih kencang, perasaan itu muncul
kembali,perasaan yang sudah lama pernah mati.
“Mira….”.lelaki itu meraih kedua
tangan mira.
Mata mira pun berkaca –
kaca..mata itu terlalu lemah untuk menahan air mata.
“Aku masih sangat
mencintaimu”…kata lelaki itu
Mira hanya diam lalu menghapus
tetesan air matanya, kemudian menyambung kembali percakapan
“ Fino…aku….juga….masih…….”kata –
kata Mira terputus ketika anak kecil tadi berkata dengan lugunya..
“Pa….pa……….”
“Pa….pa……….”
Mira terbangun dari hanyutan
perasaannya, Fino merangkul anak itu.
“Mir….ini Reski,,anakku…..”kata Fino
Mira mencubit pipi Reski,dan
membalikkan badan, baru saja Mira akan melangkahkan kaki. Fino meraih kembali
tangan Mira dan memeluknya
“aku mencintaimu Mira…..”
Reski berlari seakan ingin
menceritakan cerita pada ibunya,tentang apa yang ayahnya lakukan pada wanita
pengambil bola itu
Mira pun
menangis dipelukan Fino, seraya berkata.
“ Tak ada banyak hal yang mampu membuatku lupa kalau akupun mencintaimu,tapi keadaan sudah sangat jauh berbeda”
“Mira kita bisa memperbaikinya
dari awal..bukankah cinta itu adalah anugerah dari Tuhan,kita berhak menikmati
cinta itu Mir”
“Tapi kamu tidak sendiri lagi,
cinta tak selamanya harus memiliki Fin,sekarang hiduplah dengan hidupmu,
cintailah dia yang telah mencintaimu”
“Tapi Mir…….””
“Fin…..Jika memang kita terlahir
untuk bersama,sudah sejak awal Tuhan tidak semudah itu memisahkan kita, aku
menyesal telah menyia – nyiakanmu,, sekarang kulepakan kamu,biarkan aku hidup
dalam kenanganmu, mungkin hanya dengan mengenangmu aku bisa mencintaimu”
Mira melepaskan pelukannya dan
pergi dari Fino.meninggalkan seberkas cinta yang masih memeluk hatinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar