JANJI DINO
Sore ini hujan deras, Suara
gemuruh membuatku merasa takut. Menanti hujan reda sesuap nasi mulai kumasukan
kemulutku.
“Buk..aku lapar
sekali, ketika aku merasa sangat lapar, badan rasanya tak bisa digerakkan,
lemess”
“makanya, kalau
besok cari calon suami yang mapan, biar nanti kamu gak kelaparan!”
hati rasanya mulai tak enak, apa maksudanya kata – kata itu
hati rasanya mulai tak enak, apa maksudanya kata – kata itu
“Berarti maksudnya Dino
gak mapan?”, tanyaku balik
“Bukan seperti itu
Jen, setidaknya kamu masih bisa memilih”
tak
terasa nasi yang terkunyah berubah menjadi pahit.
Dino memang pacarku , sudah
setahun ini dia menemaniku. Memang dia bercerita kalau dia memang bukanlah
lelaki yang mapan. Apalagi usianya yang lebih muda 2 tahun dariku. Dia masih
anak kuliahan, sama sepertiku. Berbagai mimpi selalu kami rancang meskipun kami
tak akan pernah tau bagaimana ujungnya nanti, dan topic hangatnya adalah
menikah. Itulah yang tak pernah bisa ia kabulkan dari sederetan permintaanku. Dari
setiap kali pertengkaran sudahlah aku mengalah dan tak akan meminta permintaan itu
lagi. Karena aku tahu tak banyak yang ia bisa lakukan untuk mengabulkannya.
Setiap kali aku jatuh cinta, aku
akan sangat cepat tergila – gila pada seseorang, tapi tiap kali ada yang orang
yang berusaha meyakinkan mengubah perasaanku terhadap pasanganku, aku pasti
akan sangat mudah berubah pikiran. Aku merasa aku menyukainya. Setiap hari dia
adalah semangat hidupku begitu pula sebaliknya. Tidak bisakah sekali saja tak ada
yang bisa mengubah perasaanku.
Hari ini Dino datang kerumah,
seperti biasanya dia tak pernah mendapat sambutan manis dari ibuku. Aku sudah
merasa, tapi aku berusaha memungkirinya, kalau ibu masih tetap tak pernah
setuju dengan pilihanku kali ini. Aku pikir ini hanya perasaan ku saja, tapi
semenjak perkataan bahwa aku masih banyak pilihan sore itu, sepertinya aku
telah mendapatkan jawaban atas kegelisahan hatiku selama ini. Entahlah aku
harus bicara pada siapa,dengan perasaan hati ini.Boneka Kura – kura itu
menemaniku kali ini, kuambil Momo, boneka kura – kura yang Dino berikan
padaku. Kucurahkan perasaan ini padanya,
tapi dia hanya diam, apa yang bisa dia lakukan aku menangispun dia tak akan
pernah mengerti. Perasaan bercampur aduk itu masih ada. Tak ada kata lain lagi
yang bisa mewakilkan perasaan ini, rasa sayang ini masih sangat terjaga untuk
Dino. Tak ada salahnya jika dia adalah pacarku, tak ada salahnya dia bukan
orang yang mapan. Semua orang juga tak
ingin terlahir tak mapan, sama sepertiku yang terlahir tak sempurna.
“ibu, aku lelah jatuh dan bangun
kembali meraba – raba cinta yang baru, aku tahu ibu hanya masih terbayang – bayang
dia,mantanku yang dulu pernah mencuri hati ibu, tapi ingatlah ibu bagaimana dia
menyakitiku, menghinaku, seolah aku begitu tak berharga”
seandainya saja aku bisa mengatakan kata –
kata itu padamu ibu, aku sangat menyayangi Dino, entah cinta ini buta atau
apalah , kenapa aku seperti tak mau tahu, jangan perlakukan Dino seperti itu,
dia selalu menerima keadaanku apa adanya, tak meminta lebih dari apa yang telah
Tuhan berikan padaku.
“Apa yang kamu fikirkan Jen?”,
Tanya Dino
“Gak koq Din, aku gak mikirin
apa”
“pasti ada masalah kalau kamu bengong – bengong kaya gini”
Aku
memandang kearah Dino, menatap wajahnya yang begitu polos, ketika air mata
mulai ingin jatuh, aku memalingkan wajahku, aku tak mau dia berfikir atas
keadaan ini. Meskipun hati terasa sakit berfikir harus begitu saja
meninggalkannya, aku belum sanggup, apa kesalahanya? Hanya karena dia bukan
orang kaya. Bukankah kita juga bukan orang kaya buk. Buk aku bangga pada
keluarga Dino yang sampai lupa menyusun rumah yang baik, menyisihkan sedikit uang
berasnya, hanya untuk menyekolahkan
anak-anaknya. Bukan seperti kita yang lupa akan pendidikan demi sebuah bangunan
yang megah.
“Dino sayang, aku mencintaimu,
rasa cinta ku sampai melupakan segalanya.
Entah apa dosa hubungan kita, sampai harus selalu tak direstui, kenapa
sekarang harus dapat ujian seperti ini lagi, saat kita benar- benar saling sayang dan dalam keadaan
baik – baik saja”
Dino
terdiam, merasa bersalah mencintai anak satu –satunya dari ibu yang tak pernah
merestuinya itu. Ingin menangis melihat perempuan yang paling ia cintai
meneteskan air matanya.
“Ini masalah serius jen, aku tak
bisa berbuat banyak, jika ibumu tak merestui hubungan kita, mungkin benar aku
bukan lelaki yang baik untuk kamu”
“Jangan ngomong gitu Din, maafkan
aku karena aku harus menceritakan ini semua kepadamu”
“Gak apa- apa jen, justru ini
lebih baik, setidaknya aku tahu , bagaimana posisiku di mata mereka”
Aku
hanya menganggukan kepala, dan Dino mulai berbicara
“Jen…mungkinkah
aku harus melepaskanmu?”
apa?”
apa?”
“meskipun aku belum pernah siap
dan tidak akan pernah siap kehilanganmu, aku akan rela melepaskanmu asal kamu
bahagia”
“Dino…
aku belum bisa begitu aja kehilangan kamu?”
“jen…aku Cuma gak mau hubungan ini jadi beban kamu”
“jen…aku Cuma gak mau hubungan ini jadi beban kamu”
Air
mata ini harus menetes lagi, tak tertahankan melihat Dino juga harus menangis.
“jen..aku sudah merasa diberikan
sikap yang berbeda oleh ibumu, tapi aku ingin berusaha bersikap baik, selalu
berfikir positif, tapi kalau keadaanya memang harus seperti ini. Aku lebih baik
pergi, “
“Tapi..Din..”
“Jeny. . gak ada pilihan lain”
“Jeny. . gak ada pilihan lain”
“Din, tetaplah bersamaku,
berjanjilah jangan pergi”
“Jen, mungkin perpisahan adalah
jawaban terbaik dari hubungan kita, aku gak bisa berjanji untuk tidak meninggalkanmu,Tapi
aku janji aku bakal datang lagi menjadi pria yang baik untuk kamu, tunggu aku
jen”
Dan
akupun harus mengiyakan permintaan tulus Dino.
Semenjak
itulah aku tak lagi ingin mengenal cowok lain.
**1
tahun kemudian***
Malam minggu kesekian kalinya aku
melewati hari – hari tanpa kekasih, ibu selalu memintaku menikah, sedangkan aku
tak punya siapa-siapa yang akan menikahiku.
Sore
yang indah, di pantai yang tenang. Ada seseorang yang memanggil namaku.
“Jenny..”
ketika aku menoleh lelaki itu memelukku,.hatiku bergetar, pria tinggi itu tak mau melepsakn pelukannya dan aku seakan menyerah dipelukannya
ketika aku menoleh lelaki itu memelukku,.hatiku bergetar, pria tinggi itu tak mau melepsakn pelukannya dan aku seakan menyerah dipelukannya
“Dino..”
“Maafin
aku Jen”katanya
“Maaf….untuk apa” dalam hati sudah bertanya mungkin dia meminta maaf karna telah menikah dan tak mengundangku
“Maaf….untuk apa” dalam hati sudah bertanya mungkin dia meminta maaf karna telah menikah dan tak mengundangku
“Dino berlutut, maaf jenny aku
terlalu lama menepati janjiku agar bisa menjadi lelaki yang lebih baik untuk
kamu.”
Aku
tersenyum lega. Dia masih menyimpanku di hatinya.
“aku ingin menikahimu”
Aku
tersenyum dengan rasa setengah tak percaya,
“apa
aku mimpi Dino?”
“Tidak Jen…ini nyata, terimakasih kamu telah menungguku, aku ingin hidup bersama kamu, I LOVE U
“Tidak Jen…ini nyata, terimakasih kamu telah menungguku, aku ingin hidup bersama kamu, I LOVE U
“I LOVE U too Dino, koq bisa
sekarang kamu kaya gini Din?”
“Terimaksih untuk Ibumu, berkat
dialah aku seperti ini, taka ada rasa benci dihatiku untuk ibumu. Ketika ibumu
menyatakan kekuranganku, itu membuatku kuat dan menjadi cambukan positif untuk
aku menjalani hidup, tiap kali aku lemah, aku teringat akan janjiku padamu itu
membuatku bisa sukses seperti sekarang, aku tak mau kamu selalu meneteskan air
mata, jika banyak orang yang mungkin mengangap lemah hidupku”
Setelah
pertemuan itu, akhirnya Dino melamarku, meskipun usiaku sudah tak muda lagi. Entah
akhirnya direstui atau tidak aku tak tahu, yang jelas Dino telah jadi lelaki
yang mapan. Lelaki yang bisa jadi sayap pelindungku.
Terimakasih
Dino telah menepati janjimu, tak ada satu manusia pun yang sempurna, tapi
dengan Cinta, ketidaksempurnaan itu akan meyakinkan kita untuk menjadi sosok
yang lebih baik.dan kamu telah buktikan itu.