Minggu, 15 Maret 2015

JANJI DINO
Sore ini hujan deras, Suara gemuruh membuatku merasa takut. Menanti hujan reda sesuap nasi mulai kumasukan kemulutku.
“Buk..aku lapar sekali, ketika aku merasa sangat lapar, badan rasanya tak bisa digerakkan, lemess”
“makanya, kalau besok cari calon suami yang mapan, biar nanti kamu gak kelaparan!”
hati rasanya mulai tak enak, apa maksudanya kata – kata itu
“Berarti maksudnya Dino gak mapan?”, tanyaku balik
“Bukan seperti itu Jen, setidaknya kamu masih bisa memilih”
tak terasa nasi yang terkunyah berubah menjadi pahit.
Dino memang pacarku , sudah setahun ini dia menemaniku. Memang dia bercerita kalau dia memang bukanlah lelaki yang mapan. Apalagi usianya yang lebih muda 2 tahun dariku. Dia masih anak kuliahan, sama sepertiku. Berbagai mimpi selalu kami rancang meskipun kami tak akan pernah tau bagaimana ujungnya nanti, dan topic hangatnya adalah menikah. Itulah yang tak pernah bisa ia kabulkan dari sederetan permintaanku. Dari setiap kali pertengkaran sudahlah aku mengalah dan tak akan meminta permintaan itu lagi. Karena aku tahu tak banyak yang ia bisa lakukan untuk mengabulkannya.
            Setiap kali aku jatuh cinta, aku akan sangat cepat tergila – gila pada seseorang, tapi tiap kali ada yang orang yang berusaha meyakinkan mengubah perasaanku terhadap pasanganku, aku pasti akan sangat mudah berubah pikiran. Aku merasa aku menyukainya. Setiap hari dia adalah semangat hidupku begitu pula sebaliknya. Tidak bisakah sekali saja tak ada yang bisa mengubah perasaanku.
            Hari ini Dino datang kerumah, seperti biasanya dia tak pernah mendapat sambutan manis dari ibuku. Aku sudah merasa, tapi aku berusaha memungkirinya, kalau ibu masih tetap tak pernah setuju dengan pilihanku kali ini. Aku pikir ini hanya perasaan ku saja, tapi semenjak perkataan bahwa aku masih banyak pilihan sore itu, sepertinya aku telah mendapatkan jawaban atas kegelisahan hatiku selama ini. Entahlah aku harus bicara pada siapa,dengan perasaan hati ini.Boneka Kura – kura itu menemaniku kali ini, kuambil Momo, boneka kura – kura yang Dino berikan padaku.  Kucurahkan perasaan ini padanya, tapi dia hanya diam, apa yang bisa dia lakukan aku menangispun dia tak akan pernah mengerti. Perasaan bercampur aduk itu masih ada. Tak ada kata lain lagi yang bisa mewakilkan perasaan ini, rasa sayang ini masih sangat terjaga untuk Dino. Tak ada salahnya jika dia adalah pacarku, tak ada salahnya dia bukan orang yang mapan.  Semua orang juga tak ingin terlahir tak mapan, sama sepertiku yang terlahir tak sempurna.
“ibu, aku lelah jatuh dan bangun kembali meraba – raba cinta yang baru, aku tahu ibu hanya masih terbayang – bayang dia,mantanku yang dulu pernah mencuri hati ibu, tapi ingatlah ibu bagaimana dia menyakitiku, menghinaku, seolah aku begitu tak berharga”
 seandainya saja aku bisa mengatakan kata – kata itu padamu ibu, aku sangat menyayangi Dino, entah cinta ini buta atau apalah , kenapa aku seperti tak mau tahu, jangan perlakukan Dino seperti itu, dia selalu menerima keadaanku apa adanya, tak meminta lebih dari apa yang telah Tuhan berikan padaku.
“Apa yang kamu fikirkan Jen?”, Tanya Dino
“Gak koq Din, aku gak mikirin apa”

“pasti ada masalah kalau kamu bengong – bengong kaya gini”
Aku memandang kearah Dino, menatap wajahnya yang begitu polos, ketika air mata mulai ingin jatuh, aku memalingkan wajahku, aku tak mau dia berfikir atas keadaan ini. Meskipun hati terasa sakit berfikir harus begitu saja meninggalkannya, aku belum sanggup, apa kesalahanya? Hanya karena dia bukan orang kaya. Bukankah kita juga bukan orang kaya buk. Buk aku bangga pada keluarga Dino yang sampai lupa menyusun rumah yang baik, menyisihkan sedikit uang berasnya, hanya  untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bukan seperti kita yang lupa akan pendidikan demi sebuah bangunan yang megah.
“Dino sayang, aku mencintaimu, rasa cinta ku sampai melupakan segalanya.  Entah apa dosa hubungan kita, sampai harus selalu tak direstui, kenapa sekarang harus dapat ujian seperti ini lagi, saat  kita benar- benar saling sayang dan dalam keadaan baik – baik saja”
Dino terdiam, merasa bersalah mencintai anak satu –satunya dari ibu yang tak pernah merestuinya itu. Ingin menangis melihat perempuan yang paling ia cintai meneteskan air matanya.
“Ini masalah serius jen, aku tak bisa berbuat banyak, jika ibumu tak merestui hubungan kita, mungkin benar aku bukan lelaki yang baik untuk kamu”
“Jangan ngomong gitu Din, maafkan aku karena aku harus menceritakan ini semua kepadamu”
“Gak apa- apa jen, justru ini lebih baik, setidaknya aku tahu , bagaimana posisiku di mata mereka”
Aku hanya menganggukan kepala, dan Dino mulai berbicara
“Jen…mungkinkah aku harus melepaskanmu?”
apa?”
“meskipun aku belum pernah siap dan tidak akan pernah siap kehilanganmu, aku akan rela melepaskanmu asal kamu bahagia”
“Dino… aku belum bisa begitu aja kehilangan kamu?”
“jen…aku Cuma gak mau hubungan ini jadi beban kamu”
Air mata ini harus menetes lagi, tak tertahankan melihat Dino juga harus menangis.  
“jen..aku sudah merasa diberikan sikap yang berbeda oleh ibumu, tapi aku ingin berusaha bersikap baik, selalu berfikir positif, tapi kalau keadaanya memang harus seperti ini. Aku lebih baik pergi, “
“Tapi..Din..”
“Jeny. . gak ada pilihan lain”
“Din, tetaplah bersamaku, berjanjilah jangan pergi”
“Jen, mungkin perpisahan adalah jawaban terbaik dari hubungan kita, aku gak bisa berjanji untuk tidak meninggalkanmu,Tapi aku janji aku bakal datang lagi menjadi pria yang baik untuk kamu, tunggu aku jen”
Dan akupun harus mengiyakan permintaan tulus Dino.
Semenjak itulah aku tak lagi ingin mengenal cowok lain.
**1 tahun kemudian***
Malam minggu kesekian kalinya aku melewati hari – hari tanpa kekasih, ibu selalu memintaku menikah, sedangkan aku tak punya siapa-siapa yang akan menikahiku.
Sore yang indah, di pantai yang tenang. Ada seseorang yang memanggil namaku.
“Jenny..”
ketika aku menoleh lelaki itu memelukku,.hatiku bergetar, pria tinggi itu tak mau melepsakn pelukannya dan aku seakan menyerah dipelukannya

“Dino..”
“Maafin aku Jen”katanya
“Maaf….untuk apa” dalam hati sudah bertanya mungkin dia meminta maaf karna telah menikah dan tak mengundangku
“Dino berlutut, maaf jenny aku terlalu lama menepati janjiku agar bisa menjadi lelaki yang lebih baik untuk kamu.”
Aku tersenyum lega. Dia masih menyimpanku di hatinya.
“aku ingin menikahimu”
Aku tersenyum dengan rasa setengah tak percaya,
“apa aku mimpi Dino?”
“Tidak Jen…ini nyata, terimakasih kamu telah menungguku, aku ingin hidup bersama kamu, I LOVE U
“I LOVE U too Dino, koq bisa sekarang kamu kaya gini Din?”
“Terimaksih untuk Ibumu, berkat dialah aku seperti ini, taka ada rasa benci dihatiku untuk ibumu. Ketika ibumu menyatakan kekuranganku, itu membuatku kuat dan menjadi cambukan positif untuk aku menjalani hidup, tiap kali aku lemah, aku teringat akan janjiku padamu itu membuatku bisa sukses seperti sekarang, aku tak mau kamu selalu meneteskan air mata, jika banyak orang yang mungkin mengangap lemah hidupku”
Setelah pertemuan itu, akhirnya Dino melamarku, meskipun usiaku sudah tak muda lagi. Entah akhirnya direstui atau tidak aku tak tahu, yang jelas Dino telah jadi lelaki yang mapan. Lelaki yang bisa jadi sayap pelindungku.
Terimakasih Dino telah menepati janjimu, tak ada satu manusia pun yang sempurna, tapi dengan Cinta, ketidaksempurnaan itu akan meyakinkan kita untuk menjadi sosok yang lebih baik.dan kamu telah buktikan itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar